
Jamkesnews – Hati merupakan organ penting yang berperan dalam menjaga keseimbangan berbagai proses di dalam tubuh. Oleh karena itu, masyarakat perlu melindungi kesehatan hati sejak dini melalui kebiasaan sehari-hari yang tepat. Sejalan dengan upaya promotif dan preventif, BPJS Kesehatan Kalteng juga mendorong peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk menerapkan pola hidup sehat, melakukan pemeriksaan secara berkala, serta memanfaatkan fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan.
Penyakit hati sering berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Akibatnya, sebagian orang baru menyadari adanya masalah setelah fungsi hati mulai terganggu. Padahal, risiko kerusakan hati dapat dikurangi dengan mengendalikan berat badan, menghindari minuman beralkohol, menggunakan obat secara tepat, dan mencegah penularan hepatitis.
Mengenal Fungsi Penting Hati bagi Tubuh
Hati atau liver adalah organ berukuran besar yang berada di bagian kanan atas rongga perut. Organ ini memiliki ratusan fungsi yang berkaitan dengan metabolisme, pencernaan, penyimpanan energi, pembekuan darah, serta pembuangan zat yang tidak dibutuhkan tubuh.
Salah satu fungsi utama hati adalah membantu mengolah nutrisi dari makanan. Setelah makanan dicerna, sebagian zat gizi akan dialirkan ke hati untuk diproses, disimpan, atau digunakan sesuai kebutuhan tubuh. Selain itu, hati menyimpan glikogen yang nantinya dapat diubah menjadi glukosa ketika tubuh membutuhkan tambahan energi.
Selanjutnya, hati menghasilkan cairan empedu yang membantu proses pencernaan dan penyerapan lemak. Organ ini juga berperan mengolah obat, alkohol, dan berbagai zat kimia. Meskipun demikian, hati bukan sekadar “penyaring racun”. Proses yang dilakukannya sangat kompleks dan dapat terganggu apabila paparan zat berbahaya terjadi terus-menerus.
Karena memiliki fungsi yang luas, gangguan pada hati dapat memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan. Beberapa penyakit yang dapat menyerang organ ini meliputi hepatitis, perlemakan hati, sirosis, dan kanker hati. Namun, tidak semua penyakit hati disebabkan oleh kebiasaan minum alkohol. Infeksi virus, obesitas, diabetes, gangguan autoimun, serta penggunaan obat tertentu juga dapat menjadi penyebabnya.
Cara Mencegah Penyakit Hati dengan Gaya Hidup Sehat
Menjaga kesehatan hati tidak harus dimulai dengan perubahan yang sulit. Sebaliknya, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat besar. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan.
1. Hindari atau Batasi Konsumsi Alkohol
Alkohol diproses terutama di dalam hati. Jika dikonsumsi terlalu banyak atau terlalu sering, alkohol dapat memicu penumpukan lemak, peradangan, dan pembentukan jaringan parut pada hati. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sirosis.
Oleh sebab itu, pilihan yang paling aman untuk melindungi hati adalah tidak mengonsumsi alkohol. Terlebih lagi, alkohol sebaiknya dihindari oleh ibu hamil, anak-anak, penderita penyakit hati, orang yang sedang menggunakan obat tertentu, serta mereka yang kesulitan mengendalikan jumlah konsumsi.
Selain itu, jangan mencampurkan alkohol dengan obat tanpa arahan tenaga kesehatan. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan hati maupun efek samping lainnya.
2. Terapkan Pola Makan Bergizi Seimbang
Pola makan berlebihan, terutama yang tinggi gula, lemak jenuh, dan makanan ultra-proses, dapat meningkatkan berat badan sekaligus mendorong penumpukan lemak di hati. Kondisi ini dikenal sebagai penyakit hati berlemak yang berkaitan dengan gangguan metabolik.
Untuk mencegahnya, perbanyak konsumsi sayuran, buah, biji-bijian utuh, protein rendah lemak, serta sumber lemak sehat. Kemudian, batasi minuman manis, makanan cepat saji, daging olahan, gorengan, dan makanan dengan kandungan garam tinggi.
Meskipun buah baik untuk kesehatan, konsumsinya tetap perlu seimbang. Utamakan buah utuh dibandingkan jus yang diberi tambahan gula. Selain itu, perhatikan ukuran porsi agar jumlah energi yang masuk sesuai dengan kebutuhan tubuh.
3. Menjaga Berat Badan Tetap Ideal
Kelebihan berat badan dan obesitas berhubungan erat dengan meningkatnya risiko perlemakan hati. Bahkan, penumpukan lemak di hati dapat terjadi pada seseorang yang tidak pernah mengonsumsi alkohol.
Karena itu, usahakan mencapai berat badan sehat secara bertahap. Hindari diet ekstrem karena penurunan berat badan yang terlalu cepat justru dapat mengganggu kondisi tubuh. Sebagai gantinya, gabungkan pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidur yang cukup, dan pengelolaan stres.
Apabila memiliki diabetes, kolesterol tinggi, atau hipertensi, lakukan pengendalian sesuai anjuran dokter. Pasalnya, masalah metabolik tersebut dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan hati.
4. Berolahraga secara Teratur
Aktivitas fisik membantu tubuh menggunakan energi, meningkatkan kebugaran, serta mengurangi penumpukan lemak. Dengan demikian, olahraga dapat menjadi bagian penting dalam pencegahan penyakit hati.
Mulailah dengan aktivitas yang mudah dilakukan, seperti berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau senam. Lakukan secara teratur dan tingkatkan durasinya secara bertahap. Secara umum, orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang sekitar 150 menit setiap minggu. Namun, jenis dan intensitas olahraga tetap perlu disesuaikan dengan usia serta kondisi kesehatan.
Selain olahraga terjadwal, kurangi pula kebiasaan duduk terlalu lama. Misalnya, berdirilah dan bergerak ringan setiap 30–60 menit ketika bekerja di depan komputer.
5. Gunakan Obat dan Suplemen secara Bijak
Beberapa obat dapat memengaruhi fungsi hati apabila digunakan melebihi dosis, terlalu lama, atau dikombinasikan dengan zat lain. Salah satu contohnya adalah parasetamol. Obat ini umumnya aman apabila digunakan sesuai aturan, tetapi dosis berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati yang serius.
Oleh karena itu, selalu baca petunjuk pada kemasan dan jangan menggunakan beberapa produk dengan kandungan zat aktif yang sama secara bersamaan. Selanjutnya, konsultasikan kepada dokter atau apoteker apabila harus minum obat dalam jangka panjang.
Jangan menganggap seluruh jamu dan suplemen pasti aman karena berasal dari bahan alami. Beberapa produk herbal dapat berinteraksi dengan obat atau mengandung bahan yang berisiko bagi hati. Jadi, hindari membeli produk tanpa izin edar dan jangan menggunakannya sebagai pengganti pengobatan dokter.
6. Lindungi Diri dari Hepatitis
Hepatitis merupakan peradangan hati yang dapat disebabkan oleh virus maupun faktor noninfeksi. Virus hepatitis terdiri atas beberapa jenis, termasuk hepatitis A, B, C, D, dan E. Setiap jenis memiliki cara penularan dan pencegahan yang berbeda. WHO menjelaskan bahwa hepatitis dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, termasuk kerusakan hati berat dan kanker hati.
Untuk mengurangi risiko, pastikan makanan dan air yang dikonsumsi bersih. Biasakan mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet. Selain itu, hindari berbagi jarum, alat cukur, sikat gigi, maupun benda pribadi lain yang mungkin terkena darah.
Pastikan pula prosedur tato, tindik, akupunktur, dan tindakan medis dilakukan dengan alat steril. Sementara itu, vaksinasi hepatitis A dan B dapat memberikan perlindungan bagi kelompok yang memenuhi indikasi. Konsultasikan kebutuhan vaksin dengan dokter atau fasilitas kesehatan.
7. Berhenti Merokok
Merokok tidak hanya merusak paru-paru. Berbagai zat kimia di dalam rokok juga dapat menambah beban kerjatubuh dan berhubungan dengan peningkatan risiko beragam penyakit. Oleh sebab itu, berhenti merokok merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan hati sekaligus melindungi jantung, pembuluh darah, dan paru-paru.
Jika sulit berhenti sendiri, mintalah dukungan keluarga serta konsultasikan program berhenti merokok kepada tenaga kesehatan. Prosesnya mungkin memerlukan beberapa kali percobaan, tetapi setiap upaya tetap memberikan manfaat.
8. Lakukan Pemeriksaan Kesehatan secara Berkala
Penyakit hati tahap awal dapat muncul tanpa keluhan. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan menjadi penting, khususnya bagi orang yang memiliki obesitas, diabetes, riwayat hepatitis, kebiasaan minum alkohol, atau keluarga dengan penyakit hati.
Pemeriksaan dapat meliputi wawancara medis, pemeriksaan fisik, tes darah, dan pemeriksaan penunjang lain sesuai indikasi. Namun, tes fungsi hati tidak perlu dilakukan sembarangan tanpa pertimbangan medis. Dokter akan menentukan pemeriksaan yang sesuai berdasarkan faktor risiko dan keluhan pasien.
Peserta JKN di Kalimantan Tengah dapat memulai pemeriksaan melalui Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) tempatnya terdaftar, seperti puskesmas, klinik pratama, atau dokter praktik perorangan. Apabila berdasarkan indikasi medis dibutuhkan pemeriksaan atau penanganan lanjutan, peserta dapat memperoleh rujukan ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) sesuai prosedur yang berlaku.
Kenali Gejala Gangguan Hati
Walaupun penyakit hati kadang tidak menunjukkan tanda pada tahap awal, beberapa keluhan perlu diperhatikan. Gejalanya dapat berupa tubuh mudah lelah, mual, hilang nafsu makan, nyeri atau rasa tidak nyaman di perut kanan atas, urine berwarna gelap, tinja berwarna pucat, kulit terasa gatal, serta pembengkakan pada perut atau tungkai.
Selain itu, kulit dan bagian putih mata yang berubah menjadi kuning dapat menandakan gangguan pada hati atau saluran empedu. Informasi Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa hepatitis B dapat disertai kelelahan, nyeri perut, mual, urine berwarna lebih pekat, dan penyakit kuning. Namun, tidak semua penderita mengalami gejala yang sama.
Segera cari pertolongan medis apabila muncul mata atau kulit menguning, muntah darah, tinja berwarna hitam, perut membesar, kebingungan, penurunan kesadaran, atau nyeri perut yang berat. Hindari mendiagnosis dan mengobati diri sendiri karena keluhan tersebut perlu dinilai oleh tenaga medis.
Jaga Hati Mulai dari Sekarang
Menjaga kesehatan hati merupakan investasi jangka panjang. Langkahnya dapat dimulai dengan menghindari alkohol, memilih makanan bergizi, menjaga berat badan, berolahraga, berhenti merokok, serta menggunakan obat secara benar. Di samping itu, pencegahan hepatitis dan pemeriksaan kesehatan berdasarkan faktor risiko juga tidak boleh diabaikan.
Melalui kebiasaan sehat yang dilakukan secara konsisten, risiko penyakit hati dapat dikurangi. Apabila muncul keluhan atau memiliki faktor risiko tertentu, segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dengan deteksi lebih awal dan penanganan yang tepat, peluang mencegah kerusakan hati lebih lanjut akan menjadi lebih baik.